Riskonomics

Asuransi vs Reasuransi Syariah: Ayam dulu atau Telur dulu?

Bisnis.com, pada 26 Februari 2021 pukul 01.11 WIB, mengutip pernyataan Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Erwin Noekman, bahwa ketersediaan kapasitas reasuransi syariah merupakan salah satu kunci agar asuransi syariah dapat berkembang, terutama asuransi umum syariah. Klik Peningkatan Kapasitas Reasuransi, Kunci Akselerasi Asuransi Syariah untuk isi berita yang lebih lengkap.

Enam menit kemudian, Bisnis.com merilis berita kedua seputar topik yang sama. Kali ini Bisnis.com mengutip pernyataan saya bahwa reasuransi syariah akan selalu sejalan dengan pergerakan pasar asuransi syariah. Saat pasar bergerak agresif dan menghasilkan risiko yang tinggi, reasuransi syariah pun akan berkembang cepat, begitu pun sebaliknya. Selengkapnya, klik Permintaan Asuransi Syariah Pengaruhi Pertumbuhan Reasuransi.

The Chicken and Egg Dilemma

Sekilas kedua artikel itu seperti tanya jawab. Barangkali ada pembaca yang justru melihatnya sebagai dua pernyataan yang bertentangan. Disatu sisi Pak Erwin mengatakan reasuransi yang harus mengembangkan asuransi, sebaliknya saya berpendapat bahwa justru asuransi yang mendorong perkembangan reasuransi.

Faktanya kedua pernyataan tersebut dilontarkan pada forum yang sama yaitu webinar bertema Perkembangan Asuransi Umum Syariah di Indonesia yang digawangi oleh PT. Asuransi Jasindo Syariah. Jamaknya webinar, tidak tersedia cukup waktu untuk mendudukkan persoalan secara komprehensif. Dengan maksud menghilangkan kekhawatiran kedua pernyataan tersebut disalah mengerti atau membingungkan, maka saya putuskan untuk membuat tulisan ini.

Pernyataan Pak Erwin benar adanya, namun pernyataan saya juga tak salah. Keduanya sesungguhnya tidak bertolak belakang, bahkan sejalan. Berikut penjelasannya. Untuk menjaga fokus, kita batasi diskusi ini dalam konteks asuransi umum saja.

Pentingnya Reasuransi bagi Perusahaan Asuransi

Peran reasuransi sangat penting bagi perusahaan asurani, baik konvensional maupun syariah. Pada saat perusahaan asuransi merasa tidak mampu menahan suatu risiko atau portofolio risiko, reasuransi menjadi pilihan utama untuk mengurangi beban itu. Dengan begitu, bila terjadi peningkatan klaim, baik frequency (kekerapan) maupun severity (keparahan), ia diharapkan tidak sampai mengganggu kestabilan keuangan perusahaan, apalagi membangkrutkan.

Pemindahan sebagian risiko itu dapat dilakukan dengan dua mekanisme utama, yaitu reasuransi fakultatif dan reasuransi treaty. Fakultatif digunakan untuk memindahkan beban dari sebuah risiko secara individual, sedangkan treaty untuk memindahkan atau membagi beban atas suatu portfolio risiko.

Tingkat retensi (bagian risiko yang ditahan oleh perusahaan asuransi) ditambah kapasitas treaty yang dipasok oleh perusahaan-perusahaan reasuransi disebut kapasitas akseptasi otomatis. Istilah otomatis merefleksikan bahwa perusahaan asuransi tidak perlu mendapatkan persetujuan dari para perusahaan reasuransi untuk setiap risiko yang akan diambil. Sebaliknya dengan fakultatif, setiap risiko di negosiasikan satu per satu dengan semua perusahaan reasuransi yang mungkin terlibat.

Semakin besar kapasitas treaty yang dipasok oleh perusahaan reasuransi tentu semakin baik bagi perusahaan asuransi. Mereka menjadi lebih sigap dan kompetitif di pasar karena mampu menelan risiko dengan ukuran relatif besar dan mengambil keputusan lebih cepat. Bila kapasitas otomatis tidak mencukupi, sisa risiko biasanya ditawarkan secara fakultatif kepada perusahaan-perusahaan reasuransi. Ini tentu memperlambat pengambilan keputusan underwriting untuk menutup sebuah risiko.

Mengapa Sulit Mendapatkan Kapasitas Reasuransi Syariah?

Masalahnya adalah mendapatkan kapasitas reasuransi otomatis (treaty) yang besar tidaklah mudah. Perusahaan reasuransi akan mempertimbangkan banyak faktor, termasuk besarnya potensi bisnis yang mungkin dapat diraup oleh perusahaan asuransi tersebut. Potensi ini diindikasikan oleh EPI (Estimated Premium Income) atau ECI (Estimated Contribution Income) dari sebuah treaty. Perusahaan reasuransi akan menetapkan besarnya kapasitas yang akan dipasok yang dianggap sustainable (berkelanjutan) dan seimbang dengan besaran EPI atau ECI. Standar sustainability ini berbeda-beda untuk setiap perusahaan reasuransi. Misalnya ada yang sanggup memberikan kapasitas hingga sepuluh kali lipat dari EPI, namun ada pula yang mungkin hanya mau memasok lima kali saja. Keputusan ini dipengaruhi oleh banyak hal seperti standar underwriting, strategi korporasi (e.q. growth vs quality), besarnya modal atau kekuatan finansial, persepsi terhadap suatu perusahaan asuransi dan pasar asuransi, siklus pasar (market cycle) reasuransi global atau regional (e.g. hard or soft market) dan lain sebagainya.

Biasanya, perusahaan asuransi merancang program reasuransi berdasarkan lini bisnis yang ditutupnya. Mengingat lini bisnis berbeda memiliki karakteristik risiko yang berbeda pula, maka solusi reasuransinya juga berbeda. Ada lini bisnis yang tidak terlalu bergantung kepada kapasitas reasuransi, misalnya asuransi kendaraan bermotor di Indonesia. Namun ada pula yang memerlukan kapasitas reasuransi secara signifikan, seperti asuransi kebakaran untuk risiko-risiko komersil atau industri atau asuransi rekayasa (engineering).

Bila kita lihat komposisi portofolio asuransi umum syariah Indonesia sepanjang tahun 2020, lini bisnis terbesar adalah asuransi kendaraan bermotor (36.46%), diikuti oleh kecelakaan diri (31.11%), dan harta benda (15.6%). Asuransi kendaraan bermotor dan kecelakaan diri adalah lini yang tidak memerlukan kapasitas akseptasi yang besar mengingat ukuran risiko yang relatif kecil dan dapat sepenuhnya ditahan oleh perusahaan asuransi. Kebutuhan akan reasuransi minim, hanya sebatas proteksi terhadap kemungkinan kejadian katastropik seperti bencana alam atau jatuhnya pesawat terbang. Sedangkan untuk akseptasi risiko secara individual, praktis reasuransi tidak diperlukan.

Demikian pula halnya dengan lini asuransi harta benda didalam portofolio asuransi umum syariah Indonesia yang didominasi oleh segmen ritel dengan nilai pertanggungan yang relatif kecil. Lagi-lagi, kapasitas akseptasi reasuransi tidaklah terlalu diperlukan.

Sesungguhnya perusahaan-perusahaan reasuransi diluar negeri terus memantau dinamika industri asuransi syariah Indonesia. Bagaimanapun Indonesia tetap dipandang sebagai pasar dengan potensi keuangan syariah yang sangat besar. Indonesia sering digambarkan sebagai sleeping giant. Sayangnya sang raksasa telah tidur terlalu lama dan lelap, tak kunjung terjaga. Saat mereka melihat betapa industri asuransi umum syariah Indonesia masih bertumpu pada risiko-risiko retail dengan nilai pertanggungan rendah dan sepenuhnya masih dapat ditelan oleh kapasitas dalam negeri seperti saat ini, maka belum saatnya untuk mengerahkan sumberdaya yang besar. Apalagi total kontribusi bruto industri asuransi umum Indonesia terus menunjukkan penurunan dalam empat tahun terakhir. Saat itu potensi premi reasuransinya bagi reasuransi luar pastilah masih kecil dan tidak ekonomis untuk dikejar secara proaktif.

Boleh dikata, perusahaan-perusahaan reasuransi itu menerapkan strategy ‘wait and see’. Bagaimanapun, sebagai entitas bisnis, mereka mengharapkan hasil maksimal atas sumberdaya yang disalurkannya. Bila pasar asuransi syariah Indonesia belum menjanjikan itu, mereka tentu mengalihkan sumberdaya ke pasar lain yang lebih atraktif.

Pengalaman Getir Reasuransi Syariah

Sebenarnya industri reasuransi syariah pernah merasakan pil pahit akibat blunder dalam menakar potensi pasar asuransi syariah. Dekade pertama dari milenium ketiga, terutama periode tahun 2003 hingga 2010, ditandai bermunculannya beberapa perusahaan reasuransi syariah, seperti MNRB Retakaful, ACR Retakaful SEA, ACR Retakaful MEA, Al Fajr Retakaful dan Africa Retakaful. Pemain-pemain konvensional raksasa seperti Swiss Re, Munich Re dan Hannover Re memulai anak usaha reasuransi syariah juga dalam periode itu. Swiss Re dan Munich Re memilih Kuala Lumpur sebagai markas syariah, sedangkan Hannover Re memilih Bahrain. Pemain regional GIC Re juga membuka unit retakaful di Kuala Lumpur. Di Indonesia, tiga perusahaan reasuransi nasional (ReINDO, Nasional Re dan Marein) membuka unit usaha syariah diantara tahun 2004-2006. Sementara itu, AIG Retakaful yang mendapat lisensi pada 28 Januari 2014 dari Labuan Offshore Financial Services Authority (LOFSA) merupakan unit reasuransi syariah terakhir yang muncul dari grup asuransi global.

Tapi tahukah anda bahwa setidaknya lima perusahaan reasuransi syariah yang disebut diparagraf diatas sudah tidak lagi eksis karena bangkrut lalu dilikuidasi? MNRB Retakaful ditutup, lalu MNRB Group memutuskan untuk menjalankan bisnis reasuransi syariah dalam skala jauh lebih kecil dalam bentuk Divisi Syariah dari Malaysian Re, anak perusahaan yang bergerak dibidang reasuransi konvensional. Saat Al Fajr Retakaful yang berbasis di Kuwait mengalami kesulitan, investor Uni Emirat Arab mencoba menyelamatkan dengan injeksi modal dan berubah nama menjadi menjadi Emirates Re serta memindahkan kantor pusat ke Dubai. Namun Emirates Re juga bernasib sama. Munich Re juga “mutung” dan menghentikan operasional reasuransi umum syariah. Kantor di Kuala Lumpur yang masih berjalan hingga kini hanya menawarkan kapasitas reasuransi jiwa syariah. Dan mereka semua berguguran di dekade kedua milenia baru, sebelum tahun 2020.

ACR Retakaful yang saat kemunculannya pada tahun 2007 mendaulat diri sebagai the highest capitalized global retakaful companies dengan modal USD 300 juta dan sekaligus membuka dua entity di Kuala Lumpur dan Bahrain, juga tumbang ditahun 2017. Bahkan segenap ACR Group akhirnya tutup kedai sepenuhnya dengan menghentikan penutupan bisnis baru pada 5 Desember 2019 dan disusul diambilalihnya portfolio mereka per 31 Maret 2020 oleh Catalina, sebuah run-off specialist dari Bermuda.

Rentetan bencana alam yang menghantam Asia-Australia pada tahun 2011, diawali kebakaran hutan Australia, dua kali gempa Christchurch di Selandia Baru, gempa dan tsunami dahsyat Tohoku di Jepang dan diakhiri oleh banjir di Thailand yang berkepanjangan, disebut-sebut sebagai penyebab utama keruntuhan grup reasuransi yang pada kemunculannya tahun 2006 begitu dipuji-puja sebagai bintang Asia. Rancangan Intra-group Retrocession yang kurang prudent dan portofolio yang terlalu terkonsentrasi di Asia, sejalan dengan tagline mereka “In Asia. For Asia.”, hanya memperparahkan keadaan meski para pemegang saham dan investor baru mencoba berbagai cara penyelamatan. Khusus bagi kedua entity reasuransi syariah mereka, keyakinan berlebihan terhadap potensi bisnis asuransi syariah tetap merupakan masalah utama.

Apa yang membunuh perusahaan-perusahaan itu? Yang jelas mereka semua memiliki satu kesalahan seragam yaitu Over Optimistic terhadap potensi asuransi umum syariah. Rencana bisnis yang ambisius disambut oleh investor yang over bullish pula dan menggelontorkan modal awal raksasa.

Saat artikel ini ditulis, praktis hanya dua perusahaan reasuransi global yang masih serius menjalankan bisnis reasuransi umum syariah yaitu Swiss Re Retakaful di Malaysia dan Hannover Retakaful di Bahrain.

Ayam dan Telur

Dari uraian diatas, saya berharap pembaca dapat menangkap bahwa memperdebatkan siapa yang berperan mengembangkan siapa antara asuransi dan reasuransi adalah the chicken and egg dilemma. Mana yang lebih dulu ada, apakah ayam atau telur?

Tanpa menafikan potensi yang sangat besar sebagai bagian dari fenomena sleeping giant, kondisi asuransi umum syariah di Indonesia saat ini belumlah menggairahkan. Bahkan total kontribusi bruto (tabarru’ plus ujrah) asuransi umum syariah terus menurun dalam empat tahun terakhir. Total kontribusi bruto tertinggi dicapai tahun 2016 sejumlah IDR 2.14 Trilliun, namun tahun 2020 ditutup dengan kontribusi bruto IDR 1.62 Trilliun saja. Kita kehilangan lebih dari 24% produksi dalam 4 tahun! Bila diekspesikan dalam satuan CAGR (Compund Annual Growth Rate), industri asuransi umum syariah tumbuh negatif atau menyusut 6.71% setiap tahunnya.

Asuransi umum syariah menjadi anomali disaat sektor ekonomi syariah menunjukkan pertumbuhan dan berbagai parameter mengerek posisi Indonesia di tataran ekonomi syariah global. Meski AASI dalam konferensi persnya dibulan Februari lalu melaporkan industri kontribusi asuransi syariah tumbuh 3.83%, pastilah itu buah performa asuransi jiwa syariah.

Dengan angka-angka diatas, rasanya sulit mengharapkan pemain reasuransi luar untuk melihat asuransi umum syariah Indonesia dengan sangat optimis dan mengucurkan berbagai sumberdaya termasuk modal dan kapasitas yang besar.

Jadi, tidak ada gunanya industri asuransi umum syariah tanah air menimpakan kesalahan atas tak berkembangnya industri asuransi syariah dalam negeri kepada kapasitas reasuransi syariah. Akan lebih baik para pemain asuransi syariah tanah air fokus pada peningkatan pangsa pasar secara serius, terencana dan berkomitmen.

Mudah-mudahan konsolidasi pasar melalui kewajiban melakukan spin off unit-unit usaha syariah dapat menumbuhkan komitmen itu. Begitu industri mampu menunjukkan perkembangan positif dan memancarkan sinyal optimisme ke luar, kapasitas reasuransi syariah akan datang dengan sendirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s