Riskonomics

Berani Jujur Hebat

Akhir pekan ini (Sabtu, 4 September 2021) Islamic Insurance Society (IIS), lembaga sertifikasi praktisi asuransi syariah, menyelenggarakan webinar bertajuk panjang “Manajemen Underwriting dan Portofolio Risiko Perusahaan Asuransi Umum Syariah (Upaya Menjaga Protabilitas Dana Tabarru dan Pencapaian Target Perusahaan di Tengah Pandemi Covid 19)”. Yusas Nugraha, Direktur Bisnis dan Operasional PT. Asuransi Askrida Syariah, tampil sebagai pembicara. Sebuah pemaparan yang komprehensif tentang underwriting asuransi umum syariah dengan berbagai aspeknya. Patut diapresiasi karena waktu tiga seperempat jam diakhir pekan menjadi berarti dengan khazanah keilmuan yang berisi.

Berani Jujur Hebat (Source: Republika Online)

Namun bagi saya pribadi, ada dua hal yang standing out dan paling menarik perhatian dari pemaparan Yusas pada webinar itu. Yang pertama adalah saat ia menampilkan slide tentang perkembangan asuransi syariah dalam lima tahun terakhir yang merupakan rangkuman statistik asuransi syariah yang dapat di unduh dari situs web Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Slide itu secara gamblang memperlihatkan betapa pencapaian kontribusi bruto asuransi umum syariah Indonesia terus menurun dalam lima tahun terakhir sejak 2016 (Rp. 2.13 Triliun) hingga 2020 (Rp. 1.62 Trilliun). Disaat bersamaan industri asuransi konvensional secara konsisten terus menunjukkan kenaikan lima hingga sepuluh persen per tahun. Fakta ini sejalan dengan pembahasan singkat yang saya buat beberapa waktu lalu dan telah saya upload ke kanal YouTube dkhairatTV.

Fakta ini menjadi menarik karena ia tak sejalan dengan apa yang anda temui di media massa. Bila anda ketik “asuransi umum syariah Indonesia” atau “perkembangan asuransi umum syariah” maka akan anda temui banyak berita atau artikel yang umumnya menampilkan betapa hebatnya industri asuransi syariah yang terus tumbuh dari waktu ke waktu, termasuk saat dunia dihajar pandemi Covid-19.

Entah bangaimana ceritanya para pewarta gagal menangkap fakta sesungguhnya dari asuransi umum syariah yang terang benderang itu. Apakah mereka mendapatkan informasi yang tidak benar dan menyesatkan? Atau para pewarta itu tak faham dengan apa yang mereka beritakan, yang penting ada berita yang naik tayang? Atau keduanya?

Pemaparan Yusas hari ini adalah salah satu (kalau bukan satu-satunya) yang berani jujur mengakui bahwa industri asuransi umum syariah tidak sedang baik-baik saja. Tingkat produksi yang terus menciut dari sebuah industri baru yang seyogyanya berkembang pesat meski dari small base (basis yang kecil) merupakan masalah serius. Industri asuransi syariah masih sangat muda dan berdepan dengan potensi bisnis raksasa yang sering disebut sleeping giant. Ia bukan sunset industry yang menuju kematian. Maka penurunan kontribusi bruto lima tahun berturut-turut adalah anomali yang harus dicermati serius oleh semua pemangku kepentingan, baik itu para pemain asuransi umum syariah, OJK, KNEKS dan para penggiat ekonomi syariah.

Pendalaman perlu dilakukan untuk mencari akar masalah fenomena ini lalu diambil langkah penanggulangan yang tepat. Namun satu hal yang sudah dapat dipastikan adalah ia indikasi kuat bahwa industri asuransi umum syariah tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengkapitalisasi potensi pasar yang besar didepan mata.

Bagaimanapun kejujuran adalah modal dasar yang penting karena hanya kejujuran yang akan menghasilkan langkah-langkah tepat yang menyelesaikan masalah, bukan menyembunyikannya.

Etika universal

Fakta menarik kedua adalah saat Yusas menyebut bahwa ujrah yang terlalu tinggi bermasalah secara etika. Premi, atau kontribusi didalam terminologi asuransi syariah, dibelah menjadi dua komponen penting. Yang pertama adalah dana tabarru’ yang akan digunakan untuk membayar klaim dan ujrah yang merupakan upah bagi perusahaan asuransi syariah. Ujrah digunakan untuk menutup berbagai biaya selain biaya underwriting atau klaim, termasuk didalamnya biaya operasional, biaya akuisisi (brokerage, agency fee) dan sedikit margin keuntungan bagi perusahaan.

Kenyataan dilapangan adalah bahwa biaya akuisisi bisa menjadi sangat tinggi, melebihi batas atas yang telah ditetapkan OJK. Berbagai trik dan terminologi digunakan untuk menjustifikasi biaya tambahan itu, seperti diskon atau engineering fee. Bahkan tidak aneh bila perusahaan asuransi umum syariah harus mengeluarkan biaya akuisisi hingga 45% dari kontribusi bruto. Agar dapat menutup komponen biaya lainnya seperti biaya operasional dan margin profit, maka tak dapat dihindari ujrah harus lebih besar dari pada dana tabarru’ atau diatas 50% dari kontribusi bruto.

Meski dimungkinkan dalam situasi tertentu, Dewan Pengawas Syariah umumnya enggan meluluskan permintaan perusahaan asuransi untuk mengenakan ujrah lebih besar dari pada dana tabarru’. Sementara itu, di asuransi konvensional, biaya akuisisi tinggi hingga 60% sudah menjadi kewajaran dan lebih mudah dieksekusi. Karena semua risiko ditransfer kepada perusahaan asuransi, tidak ada keperluan membelah premi sebagai mana asuransi syariah. Tidak ada Dewan Pengawas Syariah yang merupakan komponen tata kelola tambahan di asuransi syariah. Dari perspektif bisnis, jelas perusahaan asuransi syariah berada dalam posisi tidak menguntungkan dibandingkan asuransi konvensional.

Maka saat Yusas menyatakan bahwa biaya akuisisi yang terlalu tinggi merupakan praktek yang tidak etis, ia seperti siraman air segar di tanah gersang. Etika bisnis adalah universal sifatnya, berlaku sama di sektor ekonomi syariah maupun konvensional. Maka kejujuran adanya masalah etika pada praktek asuransi saat ini dapat menjadi momentum untuk memperbaiki situasi buruk ini.

Dimana letak masalah etikanya? Sederhana sekali sebenarnya. Seorang tertanggung atau peserta asuransi ikhlas mengorek kantong sebesar premi atau kontribusi bruto adalah untuk mendapat proteksi asuransi atas risiko-risiko yang tak dapat ia tahan sendiri. Maka sewajarnyalah sebagian besar uang itu digunakan untuk membangun kumpulan dana yang disiapkan untuk pembayaran klaim yang dapat menimpa siapa saja peserta atau tertanggung dari suatu perusahaan asuransi. Bahwa ada komponen biaya lain yang perlu dikeluarkan agar mekanisme pengumpulan dana dapat dioperasikan, tentu dipahami bila jumlahnya wajar.

Nah, ketika komponen biaya lain-lain ini, terutama biaya akuisisi bagi perantara, menjadi terlalu tinggi melebihi porsi kumpulan dana untuk proteksi, pertanyaan terkait etika muncul. Bukankah konsumen menjadi pihak yang paling dirugikan karena ia terpaksa mengeluarkan biaya yang terlalu tinggi dan sebagian besarnya tidak secara langsung digunakan untuk benefit yang mungkin diterimanya. Yang jelas konsumen telah menjadi korban industri berbiaya tinggi dan tidak efisien. Ia telah menjadi korban praktek tak beretika industri asuransi karena uang yang mereka dapatkan dengan susah payah, sebagian besar digunakan untuk keuntungan pihak-pihak tertentu atau membiayai inefisiensi industri, bukan untuk manfaat perlindungan bagi mereka saat terjadi musibah.

Entah mengapa kita (paling tidak saya) tidak pernah mendengar lembaga perlindungan konsumen mengangkat fenomena ini kepermukaan.

Semoga teladan kejujuran yang ditunjukkan Yusas diakhir pekan ini dapat memicu kita semua untuk terus berperilaku dengan integritas tinggi dan memastikan asuransi sebagai industri yang menjunjung tinggi etika.

Meminjam slogan KPK, Berani jujur hebat. Namun jauh lebih hebat bila kejujuran diterapkan dilapangan dengan keberanian merubah praktek buruk menjadi berintegritas dan beretika tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s