Kabacarito

In memoriam Dr. Adman Nursal: Reporter Tarkam yang Mengayakan

Antara Bang Adman Nursal dan aku berjarak enam tahun. Kami bukan kawan sepermainan. Namun kami menikmati permainan yang sama di dusun kelahiran kami, Lempur, desa permai nan tersuruk di lekuk Bukit Barisan. Kami membesar dengan berenang di Batang Air Lempur yang jernih airnya. Berkelana di ladang-ladang di kaki dan pinggang Gunung Batuah dan bukit-bukit yang mengitari dusun kami. Di musim panen, kami membuat serunai dari batang padi. Bermain layang-layang di hamparan sawah selepas panen. Bermain petak umpet diantara rumah-rumah panggung bertiang tinggi. Tempat bersembunyi favorit adalah didalam lumbung padi yang sedang tidak terisi penuh. Hiburan ultimate kami adalah menyaksikan penyembelihan kerbau jelang lebaran atau kenduri sko(lebih detail disini Mambantai dan Makan Daging Empat Kali Setahun).

Meski tak sebaya, aku sudah mengenal Bang Adman sejak kecil. Pertama, di dusun kami, semua orang mengenal semua orang. Kedua, Ibundaku adalah guru bahasa Inggris di SMP Negeri Lempur, satu-satunya SMP di Kecamatan Gunung Raya waktu itu. Kami sekeluarga tinggal di perumahan guru, didalam lingkungan sekolah. Aku sering melihat Bang Adman di hari-hari sekolah.

Sebagaimana layaknya guru, Ibunda selalu membawa pulang cerita-cerita tentang murid-muridnya, terutama murid terbaik atau paling bandel. Bang Adman masuk kategori pertama sehingga termasuk yang paling sering disebut Ibunda. Bang Adman adalah murid Ibunda paling pintar dan selalu jadi juara umum. Paling berani bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris, tentu membuat Ibunda senang. Ia juga Ketua OSIS, sering berpidato diacara-acara sekolah seperti perpisahan, peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Sumpah Pemuda dan sebagainya. Bang Adman sudah gemar menulis dan membaca puisi sejak muda. Maka, deklamasi puisinya sering tampil di berbagai panggung, disekolah maupun di dusun kami.

Lempur (source: Liputan6)

Adalah Kenduri Sko, perhelatan negeri selepas panen yang diselenggarakan meriah setiap tahun. Bila kondisi ekonomi penduduk sedang baik, Kenduri Sko ini dapat berlangsung sepekan penuh. Setiap malam ada keramaian “konser” musik di gedung serba guna, mengundang biduanita dari Padang. Muda-mudi tumpah ruah disitu. Setiap sore dalam sepekan itu ada Turnamen Sepak Bola antar kampung memperebutkan tropi bergilir plus satu ekor sapi. Turnamen ini diikuti tim-tim dari desa-desa lain di Kabupaten Kerinci. Pertandingan biasanya dilaksanakan selepas shalat Asar. Namun anak-anak dan para pedagang sudah mulai memenuhi sisi lapangan sejak selepas Zuhur.

Maka nama Bang Adman tidak bisa lepas dari turnamen sepak bola tahunan ini. Bang Adman adalah komentator sepakbola handal yang selalu menyampaikan laporan pandangan mata persis seperti komentator English Premier League dilayar kaca. Memang unik. Semua pertandingan turnamen Kenduri Sko itu, dari babak penyisihan hingga final, tidak disiarkan langsung di media apapun. Tidak di radio apalagi TV. Tahun 1980-an belum ada YouTube atau Facebook live. Namun ada commentary atau laporan pandangan matanya. Dengan kemampuan berbahasa yang tinggi, saya berani mengatakan bahwa laporan Bang Adman lebih berkelas dari pada komentator TV lokal yang berteriak ‘jebret… jebret…’.

Biasanya Bang Adman akan berdiri di sisi lapangan sambil memegang megaphone lalu menyampaikan commentary dengan gaya profesional mirip reporter legendaris Sambas Mangundikarta atau Sazli Rais. Kadang ia duduk diatas sebuah batu besar di bukit kecil di belakang salah satu gawang. Batu itu menyuguhkan pemandangan terbaik ke arah lapangan, layaknya tribun stadion.

Tidak jarang, keputusan wasit dirasa tidak adil oleh salah satu tim yang sedang bertanding, biasanya yang sedang ketinggalan. Bila panitia gagal mengendalikan, tawuran tidak bisa dihindari, melibatkan pemain dan penonton. Bila kekalutan itu terjadi, laporan pandangan mata langsung terhenti dan Bang Adman ikut kabur menghindari kemungkinan buruk.

Bang Adman lulus SMP tahun 1984 dan belum ada SMA di dusun kami waktu itu, bahkan di kecamatan kami. Semua lulusan SMP yang berniat melanjutkan sekolah harus hijrah ke Sungai Penuh, Ibu kota Kabupaten Kerinci, 35km jaraknya dari dusun kami Lempur. Banyak pula yang berhenti sekolah atau menikah setamat SMP. Bang Adman melanjutkan ke SMA Negeri 1 Sungai Penuh, tempat aku juga sekolah enam tahun berikutnya. Tiga tahun kemudian Bang Adman di terima di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kami hilang kontak sejak Bang Adman masuk SMA.

Kami bertemu kembali sembilan tahun kemudian, ditahun 1993, ketika saya juga diterima di IPB. Kami bertemu di Asrama Mahasiswa Jambi di belakang Pasar Devries, Merdeka, Bogor. Saat itu Bang Adman sudah lulus atau hampir lulus, tapi sudah bekerja. Sesekali ia mampir ke asrama, sekedar berbincang-bincang.

Bang Adman lama bekerja di ANTV, suara khasnya sering terdengar membaca berita, meski ia tak menjadi anchor utama.

Saat aku berada di London tahun 2001-2002, Bang Adman minta dibelikan sebuah buku tentang Media atau Broadcasting yang tidak bisa ia temukan di Jakarta. Buku tebal terbitan UK itu ternyata juga tidak mudah dicari di London. Ia tidak tersedia di beberapa toko buku sepanjang jalan Chiswick High Road, dekat kosku. Akhirnya aku temukan di outlet W.H. Smith yang cukup besar di Oxford Street. Sesuai kesepakatan dengan Bang Adman, buku itu aku paketkan ke Jakarta melalui Royal Post, karena ongkos kirimnya paling murah. Hampir dua bulan, belum juga sampai ditangan Bang Adman. Aku cek ke kantor pos di London, buku itu sudah berada di Kantor Pos Besar Jakarta di Pasar Baru. Bang Adman kemudian mendatangi Kantor Pos Besar itu dan berhasil membawa pulang buku yang telah dinanti-nanti itu, hanya setelah dengan berat hati memberi “tips” tidak sedikit untuk petugas disitu.

Kami bertemu kembali sekitar tahun 2005 di kantor Bang Adman. Waktu itu aku membawa pesan dari Uda Jab (almarhum), juragan Rumah Makan Padang Ikonyo di Jatinangor. Uda Jab adalah kawan satu kelas Bang Adman di SMP. Ia mau menawarkan investasi property kepada Bang Adman, aku dimintai tolong menyampaikan prospektusnya. Saat bertemu, Bang Adman banyak bercerita tentang profesi barunya sebagai Konsultan Pemenangan Pilkada. Terutama tentang betapa ilmu dan pengalaman medianya sangat berguna dalam profesi baru ini.

Sejak itu rasanya lama aku tak pernah bertemu Bang Adman lagi, apalagi aku meninggalkan Jakarta tahun 2007. Adalah di Gedung Alumni IPB, Baranangsiang, Februari 2019, kami bertemu muka kembali saat sama-sama menghadiri Rapat Kerja Nasional Himpunan Alumni IPB. Padatnya agenda Raker membuat kami tidak sempat ngobrol banyak. Salah satu keputusan Raker adalah Kuala Lumpur akan menjadi tuan rumah Rakernas 2020. Kami berjanji untuk bertemu di Kuala Lumpur. Dan corona tiba. Rakernas dan pertemuan itu tak pernah terjadi.

Selama pandemi, kami cukup sering berkomunikasi melalui Whatsapp. Kebanyakan tentang prosedur masuk Malaysia karena Bang Adman perlu bertemu dokter yang melakukan operasi dan merawatnya beberapa tahun lalu. Komunikasi WA terakhir kami terjadi bulan Agustus 2021 yang lalu, saat kasus covid-19 varian delta masih tinggi dan Malaysia memperketat mobilitas lintas batas. Setiap orang yang memasuki Malaysia dari Indonesia waktu itu paling tidak harus menjalani karantina selama 14 hari.

Bang Adman bilang meski selama ini ia berkomunikasi secara online dengan dokternya, ia perlu ke Malaysia paling lambat bulan Oktober 2021. Aku katakan mungkin ada ketentuan khusus untuk kunjungan medis dan aku sarankan untuk mendiskusikan dengan dokter dan rumah sakit tujuan. Bang Adman berjanji akan melakukan itu dan mengabariku.

Namun, Allah telah menakdirkan bahwa kami tak akan pernah bertemu lagi. Kanker telah mengalahkan Bang Adman. Allah menjemputnya pulang malam tadi, Rabu, 3 November 2021 di Rumah Sakit MMC Jakarta.

Selamat jalan Bang Adman. Senior panutan dan kawan berbincang yang mengayakan. Semoga Allah merahmatimu dengan pengampunan dan Syurga-Nya. Sungguh, kami semua akan menyusulmu.

4 thoughts on “In memoriam Dr. Adman Nursal: Reporter Tarkam yang Mengayakan”

  1. Kisah yg menginspirasi. Luar biasa gaya menulis Delil Khairat, walaupun orang kampung Lempur, tapi bisa tinggal di London th 2001- 2002 ( aku belum pernah ke London). Baarokallohu lakum Delil Khairat. Allohummaghfirlahu bagi Allohyarham Dr. Adman Nursal

    Like

  2. Sahabat saya pada masa yg sama di AMJ,Mantarena Devris Bogor. Kami dlm masa berjuang dan seringkali dlm kesempitan financial plus tekanan perkuliahan menjadi seperti saudara. Dia junior kami pada masa itu, dan setelah tamat akselerasi dan kiprahnya membumbung lebih dr alumni2 AMJ yg lain. Selamat jalan keharibaan ArRahim sahabat yang baik. Semoga Allah SWT memuliakan engkau.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s