Quick count vs Real count

Seperti biasa, bila tidak ada ide makan apa maka rumah makan Padang menjadi pilihan kami. Setiba di rumah makan, kami langsung duduk"Mau dipilih apa dihidang aja, Pak?" pelayan bertanya sopan."Dihidang saja, Uda."Dengan begitu, semua yang mereka punya akan tersaji, tinggal ambil yang kira-kira menggugah selera. Source: http://www.saribundo.biz Singkat cerita, selesai makan aku angkat tangan minta … Continue reading Quick count vs Real count

Advertisements

Aku dan Pemilu

1992 Aku masih sekolah kelas dua SMA, di Kerinci. Mencoblos untuk pertama kali. Mendebarkan, seperti jelang malam pertama. Saat itu hanya tiga kontestan, PPP, Golkar dan PDI, tidak berubah sejak 1977. Ibu yang pegawai negeri menyarankan Golkar, sementara Abak (Ayah) yang multi-profesi, typical urang awak, bersifat netral, terserah aku. Dibilik TPS yang meminjam ruang kelas … Continue reading Aku dan Pemilu

Tiga puluh tahun Allah menunggu…

Malam itu saya meninggalkan kantor tepat saat azan Isya berkumandang.  Udara sejuk selepas hujan.  Tanah masih basah.  Berjalan kaki menuju stasiun LRT Ampang Park dan saya putuskan berhenti di surau Tabung Haji untuk ikut shalat Isya berjamaah.  Pas sekali, iqamah terdengar saat saya membuka pintu surau yang terletak disudut depan bangunan yang berdesain unik itu.  … Continue reading Tiga puluh tahun Allah menunggu…

Kisah nyata: tabrakan di tiga negara

MalaysiaTiga hari yang lalu.  Mendung mengurung Kuala Lumpur sepagi itu.  Istri saya Ida menyetir pulang selepas mengantar si nomor dua Zaki ke sekolahnya.  Dua ratus meter dari rumah, menjelang tikungan terakhir, hujan lebat mengguyur tiba-tiba.  Sudah tabiat Kuala Lumpur, hujan deras turun kerap tanpa gerimis rinai. Ida mendadak teringat jemuran yang baru digantungnya pagi itu. … Continue reading Kisah nyata: tabrakan di tiga negara

Dialog dengan Presiden tentang IPB

Lini masa saya hari-hari ini riuh rendah oleh gelombang tanggapan alumni IPB atas kritik Presiden Jokowi saat berpidato dalam Dies Natalis IPB ke-54.  Apalagi kalau bukan soal lulusan IPB yang bekerja dibanyak bidang lain, tidak ada yang jadi petani.Sebagai alumni IPB yang tersesat di industri asuransi, maka izinkan saya nimbrung barang sebait dua.Sesungguhnya kritikan itu … Continue reading Dialog dengan Presiden tentang IPB

Karena Rohingya tak lagi bisa menunggu

Source: TheWire.inKelekatan suatu kaum pada tanah kelahiran tumpah darahnya pastilah sangat erat. Nyawa pun dipertaruhkan untuk mempertahankannya. Keputusan terakhir meninggalkan kampung halaman barulah akan diambil bila bahaya yang mengancam demikian buruknya, hingga bertahan disana dapat berujung musnahnya kaum itu hingga keakar-akarnya. Kaidah ini berlaku pada semua kaum, suku dan bangsa diseluruh dunia. Tidak terkecuali Rohingya.Malangnya, … Continue reading Karena Rohingya tak lagi bisa menunggu

Dara cantik pembawa baki

Saat itu TV hitam putih 14 inchi merek National adalah pusat hiburan keluarga kami, bahkan para tetangga. Dan TVRI, yang mengudara dari pukul empat tiga puluh petang hingga menjelang tengah malam, adalah satu-satunya stasiun TV. Ada dua tayangan yang wajib ditonton, keduanya siaran langsung. Yang pertama, siaran langsung pertarungan tinju kelas berat Mike Tyson. Yang … Continue reading Dara cantik pembawa baki