24. Makelar Asuransi

Asuransi bekerja diatas prinsip bilangan besar dimana kerugian sebagian kecil ditanggung bersama-sama oleh banyak orang atau pihak. Semakin banyak populasi risiko dalam satu portofolio asuransi semakin baik karena ia menjadi lebih stabil dan lebih mudah diprediksi. Maka dari itu, sangat penting bagi perusahaan asuransi untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya tertanggung untuk menjadi nasabahnya. Bagaimana caranya? Perusahaan asuransi … Continue reading 24. Makelar Asuransi

Advertisements

23. Personal or non-personal

Pada artikel sebelumnya telah disebutkan bahwa macam ragam asuransi dapat ditinjau dari dua sudut pandang berbeda, yaitu objek risikonya atau pemilik dari objek risiko tersebut. Telah kita bahas sudut pandang pertama dalam artikel terdahulu, kini mari kita tinjau sudut pandang kedua, yakni pemilik risiko. Objek risiko dapat berupa aset riil (tangible asset) seperti bangunan atau … Continue reading 23. Personal or non-personal

22. Macam ragam asuransi

Telah dua puluh satu artikel dalam bagian ini membahas sisi teori dari asuransi, baik asuransi konvensional maupun syariah.  Kini saatnya melihat apa yang disediakan oleh industri asuransi untuk manfaat bagi publik. Publik sering dibuat bingung karena demikian banyaknya macam ragam produk asuransi disekitar mereka dengan berbagai nama dan fitur. Padahal produk-produk itu pada dasarnya adalah … Continue reading 22. Macam ragam asuransi

21. Asuransi Syariah: Kalau Tekor, Siapa Setor?

Pada artikel Asuransi Syariah: Siapa untung, siapa buntung? telah sekilas kita singgung bahwa tidak hanya surplus, bahkan defisit dana tabarru' pun adalah milik para peserta dalam kapasitas kolektif mereka. Artinya, defisit dana tabarru' yang terjadi karena kontribusi tabarru' tidak mencukupi untuk membayar klaim, merupakan tanggung jawab peserta secara bersama-sama. Akan tetapi fatwa DSN-MUI no. 53 … Continue reading 21. Asuransi Syariah: Kalau Tekor, Siapa Setor?

20. Asuransi Syariah: Siapa Untung, Siapa Buntung?

Pada asuransi konvensional, perusahaan asuransi yang bertindak sebagai penanggung mengambil alih risiko yang semula berada pada tertanggung. Untuk itu ia menerima pembayaran premi sebagai harga atas pengambilalihan yang dilakukannya. Semua premi itu merupakan hak perusahaan asuransi sepenuhnya. Telah kita bahas sebelumnya bahwa premi itu adalah harga dari kontrak jual beli yang diterapkan pada asuransi konvensional. … Continue reading 20. Asuransi Syariah: Siapa Untung, Siapa Buntung?

19. Wakala Fee Membuat Asuransi Syariah lebih mahal dari pada Konvensional. Benarkah?

Kita pahami dari bahasan-bahasan sebelumnya bahwa hanya ada satu akad pada asuransi konvensional, yaitu jual beli. Tetapi ada dua akad pada asuransi syariah, yakni tabarru' dan wakalah bil ujrah. Konsekuensinya ada komponen baru pada asuransi syariah yang tidak pernah ada di konvensional. Namanya ujrah atau wakalah fee. Kalau begitu, asuransi syariah akan selalu lebih mahal … Continue reading 19. Wakala Fee Membuat Asuransi Syariah lebih mahal dari pada Konvensional. Benarkah?

18. Asuransi Syariah: Mengapa Premi menjadi Kontribusi?

Bila¬†anda mengikuti terus artikel-artikel yang diposting secara reguler kedalam website ini mestilah anda telah memahami setidaknya dalam garis besar bagaimana asuransi konvensional dan asuransi syariah berbeda secara fundamental.¬† Terutama bila anda membaca artikel ke 13 hingga 17 dimana dijelaskan bagaimana risk transfer digantikan oleh risk sharing dan adanya perbedaan perikatan antara para pihak yang selanjutnya … Continue reading 18. Asuransi Syariah: Mengapa Premi menjadi Kontribusi?