Ramadan tempo doeloe (21): Warung nasi Buk Inah

Buk Inah adalah perempuan tua pemilik warung nasi di Jalan Mantarena, sekitar tiga puluh meter saja dari gedung SMA 2 Bogor. Dugaan saya, dua puluh tahun silam usianya paling tidak sudah lima puluh lima tahun. Warung kecilnya menempel ke tembok sisi kanan dari Toko Terang, dekat dengan lapangan tenis yang persis dibelakang toko. Warung itu … Continue reading Ramadan tempo doeloe (21): Warung nasi Buk Inah

Advertisements

Ramadan tempo doeloe (19): Long distance massage

Pada suatu hari dibulan Ramadan, hujan turun sangat lebatnya.  Selokan kecil dibelakang rumah tak mampu menampung debit air dan airpun melimpah menggenangi dapur kami.  Tidaklah tinggi sebenarnya, paling-paling semata kaki.  Namun cukup membuat lantai dapur menjadi licin.  Mujur tak dapat diraih, malangpun tak dapat ditolak.  Ibu tergelincir dan tangan kanannya secara refleks bertumpu ke lantai. … Continue reading Ramadan tempo doeloe (19): Long distance massage

Ramadan tempo doeloe (17): Didikan subuh

Disaat muda mudi aktivis tarawih asmara dan asmara subuh menyalahgunakan Ramadan dengan kegiatan tak terpuji, masih ada sekelompok anak-anak lebih belia yang mengisi Ramadan dengan aktivitas jauh lebih bermakna.  Anak-anak ini masih usia SD.Sekali dalam sepekan, biasanya diakhir pekan mereka tetap duduk di Masjid Raya selepas Subuh untuk mengikuti kegiatan yang dinamakan Didikan Subuh.  Anak-anak … Continue reading Ramadan tempo doeloe (17): Didikan subuh

Ramadan tempo doeloe (18): Kue rayo

Disebut kue rayo karena kami membuatnya spesial untuk hari raya, diluar itu tidak pernah. Kadang kami menyebutnya kue mentega, karena bahan utamanya adalah mentega atau margarine dari merek yang melegenda, Blue Band. Ia sebenarnya adalah kue kering atau cookies yang dibuat dengan berbagai kombinasi adonan dan dicetak dengan bentuk berbagai rupa. Kue mentega sebenarnya bukanlah … Continue reading Ramadan tempo doeloe (18): Kue rayo

Jangan pernah katakan ‘Apalah arti sebuah nama’

Check out dari Pullman Thamrin hari ini dan hijrah ke hotel budget karena urusan pekerjaan sudah selesai.  Saya minta tolong concierge mengirim orang mengangkut barang-barang.Seorang porter datang dengan troli khas hotel.  Ali namanya.  Sambil mengangkat koper ia bertanya, "Bapak asalnya dari mana?".  Agak kaget saya jawab, "saya lahir di Kerinci, kedua orang tua saya dari … Continue reading Jangan pernah katakan ‘Apalah arti sebuah nama’

Ramadan tempo doeloe (16): Project BuBar

 BukBer (Buka Bersama) atau BuBar (Buka Bareng) telah menjadi fenomena dahsyat beberapa tahun belakangan ini. Tidak lagi hanya terbatas pada kelompok kecil individu atau keluarga dekat, bahkan korporasi dan organisasi besar telah pula menjadikannya agenda wajib setiap Ramadan.  Seorang kawan di Jakarta bahkan menerima undangan buka bersama melebihi jumlah hari dibulan Ramadan. Dari kantor sendiri, supplier, … Continue reading Ramadan tempo doeloe (16): Project BuBar

Ramadan tempo doeloe (15): Pusara yang hilang

Salah satu kebiasaan menjelang bulan Ramadan tiba adalah menziarahi makam orang tua atau keluarga dekat. Ketika aku masih kecil dulu, ada empat kerabat dekat yang telah berpulang. Kedua orang tua Ibu, Iyak (Nenek) yang wafat setahun sebelum aku lahir dan Inyiak (Kakek) yang berpulang ketika aku berumur tiga tahun.  Lalu sepasang adik ibu yang aku … Continue reading Ramadan tempo doeloe (15): Pusara yang hilang