Ramadan tempo doeloe (26): Rantang empat tingkat

Sebelum pemekaran beberapa tahun belakangan, kampung kami terdiri dari empat desa.  Semasa gadis Ibu tinggal di Desa Batru Lempur.  Setelah menikah Ibu pindah ke sebuah rumah di Desa Lempur Mudik dan tinggal disana sekitar enam tahun.  Dirumah itu ketiga anak Ibu lahir.  Lalu Ibu dan Abak memutuskan pindah kerumah bambu yang dibangun sendiri disamping SMP … Continue reading Ramadan tempo doeloe (26): Rantang empat tingkat

Advertisements

Ramadan tempo doeloe (25): Guru digugat

Ramai kabar belakangan ini, dimedia mainstream maupun media sosial, tentang guru yang digugat. Seorang guru dilaporkan ke polisi karena mencubit muridnya. Ada ibu guru yang masuk bui karena memukul muridnya. Saya tidak pernah memukul anak-anak saya. Saya tidak mendukung guru menggunakan kekerasan terhadap anak muridnya. Namun, guru juga manusia, yang kesabarannya tidak tak berbatas. Banyak … Continue reading Ramadan tempo doeloe (25): Guru digugat

Ramadan tempo doeloe (20) : Galamai juara dunia

Satu lagi kuliner khas bulan Ramadan, dalam bahasa Minang kami menyebutnya galamai.  Ditempat lain ia dinamakan jenang atau dodol.  Galamai biasa dibuat dalam rangka hari-hari istimewa seperti baralek dan tentu saja hari raya.Galamai dibuat dari tiga bahan utama yaitu tepung beras ketan, santan kelapa dan gula enau (aren).  Karena tidak mudah mendapatkan gula enau, kami … Continue reading Ramadan tempo doeloe (20) : Galamai juara dunia