Ramadan tempo doeloe (26): Rantang empat tingkat

Sebelum pemekaran beberapa tahun belakangan, kampung kami terdiri dari empat desa.  Semasa gadis Ibu tinggal di Desa Batru Lempur.  Setelah menikah Ibu pindah ke sebuah rumah di Desa Lempur Mudik dan tinggal disana sekitar enam tahun.  Dirumah itu ketiga anak Ibu lahir.  Lalu Ibu dan Abak memutuskan pindah kerumah bambu yang dibangun sendiri disamping SMP … Continue reading Ramadan tempo doeloe (26): Rantang empat tingkat

Ramadan tempo doeloe (28): Dua Syawal Hari Pelajar

Kampung dimana aku dilahirkan, dimasa kecilku secara administratif, dibagi menjadi empat dusun (desa).  Setiap dusun (tentu) punya kepala desa atau lurah sendiri. Masing-masing juga punya masjid sendiri, karang taruna sendiri, klub sepak bola sendiri dan gedung serbaguna sendiri.  Warga dusun menyebut gedung serbaguna itu sebagai "gedung" saja, sebagaimana mereka menyebut sepeda motor segala merek sebagai … Continue reading Ramadan tempo doeloe (28): Dua Syawal Hari Pelajar