Ramadan tempo doeloe (26): Rantang empat tingkat

Sebelum pemekaran beberapa tahun belakangan, kampung kami terdiri dari empat desa.  Semasa gadis Ibu tinggal di Desa Batru Lempur.  Setelah menikah Ibu pindah ke sebuah rumah di Desa Lempur Mudik dan tinggal disana sekitar enam tahun.  Dirumah itu ketiga anak Ibu lahir.  Lalu Ibu dan Abak memutuskan pindah kerumah bambu yang dibangun sendiri disamping SMP … Continue reading Ramadan tempo doeloe (26): Rantang empat tingkat

Ramadan tempo doeloe (19): Long distance massage

Pada suatu hari dibulan Ramadan, hujan turun sangat lebatnya.  Selokan kecil dibelakang rumah tak mampu menampung debit air dan airpun melimpah menggenangi dapur kami.  Tidaklah tinggi sebenarnya, paling-paling semata kaki.  Namun cukup membuat lantai dapur menjadi licin.  Mujur tak dapat diraih, malangpun tak dapat ditolak.  Ibu tergelincir dan tangan kanannya secara refleks bertumpu ke lantai. … Continue reading Ramadan tempo doeloe (19): Long distance massage

Ramadan tempo doeloe (18): Kue rayo

Disebut kue rayo karena kami membuatnya spesial untuk hari raya, diluar itu tidak pernah. Kadang kami menyebutnya kue mentega, karena bahan utamanya adalah mentega atau margarine dari merek yang melegenda, Blue Band. Ia sebenarnya adalah kue kering atau cookies yang dibuat dengan berbagai kombinasi adonan dan dicetak dengan bentuk berbagai rupa. Kue mentega sebenarnya bukanlah … Continue reading Ramadan tempo doeloe (18): Kue rayo