Four eyes principle

Bagi yang berkarir diindustri asuransi, terutama underwriter, tentulah sangat familiar dengan istilah ini, four eyes principle. Underwriter adalah seseorang yang menganalisa sebuah risiko lalu mengambil keputusan apakah akan mengambil risiko tersebut atau tidak. Ia pula yang menetapkan, bila keputusannya adalah mengambil risiko itu, terms and conditions (syarat dan ketentuan) untuk pertanggungan tersebut. Syarat dan ketentuan … Continue reading Four eyes principle

Advertisements

25. Koasuransi: Risiko Besar, Kapasitas Kurang

Koasuransi adalah situasi dimana sebuah risiko atau objek pertanggungan diasuransikan kepada dua atau lebih perusahaan asuransi. Singkatnya, satu tertanggung, tapi ada dua atau lebih penanggung. Kapasitas terbatas Alasan utama diperlukan lebih dari satu perusahaan asuransi untuk satu risiko adalah keterbatasan kapasitas atau kemampuan perusahaan asuransi untuk menanggung risiko tersebut. Misalnya, total harga pertanggungan sebuah IDR … Continue reading 25. Koasuransi: Risiko Besar, Kapasitas Kurang

21. Asuransi Syariah: Kalau Tekor, Siapa Setor?

Pada artikel Asuransi Syariah: Siapa untung, siapa buntung? telah sekilas kita singgung bahwa tidak hanya surplus, bahkan defisit dana tabarru' pun adalah milik para peserta dalam kapasitas kolektif mereka. Artinya, defisit dana tabarru' yang terjadi karena kontribusi tabarru' tidak mencukupi untuk membayar klaim, merupakan tanggung jawab peserta secara bersama-sama. Akan tetapi fatwa DSN-MUI no. 53 … Continue reading 21. Asuransi Syariah: Kalau Tekor, Siapa Setor?

20. Asuransi Syariah: Siapa Untung, Siapa Buntung?

Pada asuransi konvensional, perusahaan asuransi yang bertindak sebagai penanggung mengambil alih risiko yang semula berada pada tertanggung. Untuk itu ia menerima pembayaran premi sebagai harga atas pengambilalihan yang dilakukannya. Semua premi itu merupakan hak perusahaan asuransi sepenuhnya. Telah kita bahas sebelumnya bahwa premi itu adalah harga dari kontrak jual beli yang diterapkan pada asuransi konvensional. … Continue reading 20. Asuransi Syariah: Siapa Untung, Siapa Buntung?

19. Wakala Fee Membuat Asuransi Syariah lebih mahal dari pada Konvensional. Benarkah?

Kita pahami dari bahasan-bahasan sebelumnya bahwa hanya ada satu akad pada asuransi konvensional, yaitu jual beli. Tetapi ada dua akad pada asuransi syariah, yakni tabarru' dan wakalah bil ujrah. Konsekuensinya ada komponen baru pada asuransi syariah yang tidak pernah ada di konvensional. Namanya ujrah atau wakalah fee. Kalau begitu, asuransi syariah akan selalu lebih mahal … Continue reading 19. Wakala Fee Membuat Asuransi Syariah lebih mahal dari pada Konvensional. Benarkah?

18. Asuransi Syariah: Mengapa Premi menjadi Kontribusi?

Bila¬†anda mengikuti terus artikel-artikel yang diposting secara reguler kedalam website ini mestilah anda telah memahami setidaknya dalam garis besar bagaimana asuransi konvensional dan asuransi syariah berbeda secara fundamental.¬† Terutama bila anda membaca artikel ke 13 hingga 17 dimana dijelaskan bagaimana risk transfer digantikan oleh risk sharing dan adanya perbedaan perikatan antara para pihak yang selanjutnya … Continue reading 18. Asuransi Syariah: Mengapa Premi menjadi Kontribusi?

17. Membaca Fatwa no. 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah

Setelah membaca fatwa DSN-MUI tentang akad tabarru' pada artikel sebelumnya, kini kita membahas fatwa pasangannya yaitu tentang akad wakalah bil ujrah. Bab Menimbang fatwa ini mengutip QS An Nisa (4):9, QS Al Hasyr (50):18, QS At Taubah (9):60, QS Al Kahf (18):19, QS Yusuf (12):55, QS An Nisa (4):58, QS An Nisa (4):35, QS Al … Continue reading 17. Membaca Fatwa no. 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah