Understanding Insurance

13. How to make Insurance in line with Shariah?

Discussions in the last two articles Why is conventional insurance not in line with Sharia? (part 1) and Why is conventional insurance not in line with Sharia? (part 2) have led us to the conclusion that the principal problem that makes conventional insurance unacceptable to Shariah is the mechanism of transferring risk from the insured… Continue reading 13. How to make Insurance in line with Shariah?

Riskonomics

Menimbang adakah metode reasuransi excess of loss sejalan dengan Syariah

Note: English version of this article is available at Assessing Shariah compliance of excess of loss retakaful. Pada suatu Jumat sore yang cerah, seorang kandidat PhD Islamic Finance yang masih muda datang untuk berdiskusi tentang metode retakaful (reasuransi syariah) non-proporsional. Ia membawa sebuah makalah ISRA yang secara singkat menyentuh topik ini, namun tanpa kesimpulan. Ia… Continue reading Menimbang adakah metode reasuransi excess of loss sejalan dengan Syariah

Mengerti Asuransi

36. Alur kontribusi reasuransi syariah akad wakalah (non-Indonesian model)

Dengan mencermati alur kontribusi atau premi yang diuraikan oleh dua artikel terdahulu (no 34 dan 35), pembaca tentu telah dapat melihat perbedaan antara praktek reasuransi syariah akad wakalah bil ujrah dan reasuransi konvensional. Sebagian dari anda mungkin berpendapat bahwa mekanisme reasuransi syariah terlihat lebih rumit dari pada konvensional. Ini adalah konsekuensi dari pembelahan kontribusi menjadi… Continue reading 36. Alur kontribusi reasuransi syariah akad wakalah (non-Indonesian model)

Mengerti Asuransi

21. Asuransi Syariah: Kalau Tekor, Siapa Setor?

Pada artikel Asuransi Syariah: Siapa untung, siapa buntung? telah sekilas kita singgung bahwa tidak hanya surplus, bahkan defisit dana tabarru' pun adalah milik para peserta dalam kapasitas kolektif mereka. Artinya, defisit dana tabarru' yang terjadi karena kontribusi tabarru' tidak mencukupi untuk membayar klaim, merupakan tanggung jawab peserta secara bersama-sama. Akan tetapi fatwa DSN-MUI no. 53… Continue reading 21. Asuransi Syariah: Kalau Tekor, Siapa Setor?

Mengerti Asuransi

20. Asuransi Syariah: Siapa Untung, Siapa Buntung?

Pada asuransi konvensional, perusahaan asuransi yang bertindak sebagai penanggung mengambil alih risiko yang semula berada pada tertanggung. Untuk itu ia menerima pembayaran premi sebagai harga atas pengambilalihan yang dilakukannya. Semua premi itu merupakan hak perusahaan asuransi sepenuhnya. Telah kita bahas sebelumnya bahwa premi itu adalah harga dari kontrak jual beli yang diterapkan pada asuransi konvensional.… Continue reading 20. Asuransi Syariah: Siapa Untung, Siapa Buntung?

Mengerti Asuransi

19. Wakala Fee Membuat Asuransi Syariah lebih mahal dari pada Konvensional. Benarkah?

Kita pahami dari bahasan-bahasan sebelumnya bahwa hanya ada satu akad pada asuransi konvensional, yaitu jual beli. Tetapi ada dua akad pada asuransi syariah, yakni tabarru' dan wakalah bil ujrah. Konsekuensinya ada komponen baru pada asuransi syariah yang tidak pernah ada di konvensional. Namanya ujrah atau wakalah fee. Kalau begitu, asuransi syariah akan selalu lebih mahal… Continue reading 19. Wakala Fee Membuat Asuransi Syariah lebih mahal dari pada Konvensional. Benarkah?

Mengerti Asuransi

18. Asuransi Syariah: Mengapa Premi menjadi Kontribusi?

Bila¬†anda mengikuti terus artikel-artikel yang diposting secara reguler kedalam website ini mestilah anda telah memahami setidaknya dalam garis besar bagaimana asuransi konvensional dan asuransi syariah berbeda secara fundamental.¬† Terutama bila anda membaca artikel ke 13 hingga 17 dimana dijelaskan bagaimana risk transfer digantikan oleh risk sharing dan adanya perbedaan perikatan antara para pihak yang selanjutnya… Continue reading 18. Asuransi Syariah: Mengapa Premi menjadi Kontribusi?