Understanding Insurance

16. Reading Fatwa no. 53 /DSN-MUI/III/2006 on the Contract of Tabarru’ in Islamic Insurance

In the last two articles Conventional Insurance vs Islamic Insurance: Relationship between Parties and Conventional vs. Islamic Insurance: The Roles, Rights and Obligations of the Parties, we have discussed how structure of Islamic insurance is different from conventional. The difference is so fundamental leading to different roles, rights and obligations of the parties involved. We should also… Continue reading 16. Reading Fatwa no. 53 /DSN-MUI/III/2006 on the Contract of Tabarru’ in Islamic Insurance

Mengerti Asuransi

36. Alur kontribusi reasuransi syariah akad wakalah (non-Indonesian model)

Dengan mencermati alur kontribusi atau premi yang diuraikan oleh dua artikel terdahulu (no 34 dan 35), pembaca tentu telah dapat melihat perbedaan antara praktek reasuransi syariah akad wakalah bil ujrah dan reasuransi konvensional. Sebagian dari anda mungkin berpendapat bahwa mekanisme reasuransi syariah terlihat lebih rumit dari pada konvensional. Ini adalah konsekuensi dari pembelahan kontribusi menjadi… Continue reading 36. Alur kontribusi reasuransi syariah akad wakalah (non-Indonesian model)

Mengerti Asuransi

34. Alur kontribusi pada reasuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah

Telah diuraikan dalam artikel sebelumnya Alur kontribusi pada asuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah bahwa kontribusi yang dibayarkan peserta dibelah menjadi dana tabarru' dan ujrah. Bila skema asuransi menggunakan wakalah bil ujrah, maka secara alamiah akan lebih mudah dan efisien apabila reasuransi syariah juga menggunakan akad yang sama. Bagaimana penerapannya dalam praktek? Berikut uraiannya.… Continue reading 34. Alur kontribusi pada reasuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah

Mengerti Asuransi

33. Alur kontribusi pada asuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) telah memfatwakan bahwa wakalah bil ujrah adalah salah satu akad yang dapat digunakan dalam skema asuransi syariah untuk menjelaskan hubungan antara perusahaan asuransi sebagai operator dan para peserta. Lebih lanjut mengenai akad ini dapat dibaca di Membaca Fatwa no. 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah bil Ujrah pada Asuransi Syariah… Continue reading 33. Alur kontribusi pada asuransi syariah dengan akad wakalah bil ujrah

Mengerti Asuransi

21. Asuransi Syariah: Kalau Tekor, Siapa Setor?

Pada artikel Asuransi Syariah: Siapa untung, siapa buntung? telah sekilas kita singgung bahwa tidak hanya surplus, bahkan defisit dana tabarru' pun adalah milik para peserta dalam kapasitas kolektif mereka. Artinya, defisit dana tabarru' yang terjadi karena kontribusi tabarru' tidak mencukupi untuk membayar klaim, merupakan tanggung jawab peserta secara bersama-sama. Akan tetapi fatwa DSN-MUI no. 53… Continue reading 21. Asuransi Syariah: Kalau Tekor, Siapa Setor?

Mengerti Asuransi

20. Asuransi Syariah: Siapa Untung, Siapa Buntung?

Pada asuransi konvensional, perusahaan asuransi yang bertindak sebagai penanggung mengambil alih risiko yang semula berada pada tertanggung. Untuk itu ia menerima pembayaran premi sebagai harga atas pengambilalihan yang dilakukannya. Semua premi itu merupakan hak perusahaan asuransi sepenuhnya. Telah kita bahas sebelumnya bahwa premi itu adalah harga dari kontrak jual beli yang diterapkan pada asuransi konvensional.… Continue reading 20. Asuransi Syariah: Siapa Untung, Siapa Buntung?

Mengerti Asuransi

19. Wakala Fee Membuat Asuransi Syariah lebih mahal dari pada Konvensional. Benarkah?

Kita pahami dari bahasan-bahasan sebelumnya bahwa hanya ada satu akad pada asuransi konvensional, yaitu jual beli. Tetapi ada dua akad pada asuransi syariah, yakni tabarru' dan wakalah bil ujrah. Konsekuensinya ada komponen baru pada asuransi syariah yang tidak pernah ada di konvensional. Namanya ujrah atau wakalah fee. Kalau begitu, asuransi syariah akan selalu lebih mahal… Continue reading 19. Wakala Fee Membuat Asuransi Syariah lebih mahal dari pada Konvensional. Benarkah?

Mengerti Asuransi

18. Asuransi Syariah: Mengapa Premi menjadi Kontribusi?

Bila anda mengikuti terus artikel-artikel yang diposting secara reguler kedalam website ini mestilah anda telah memahami setidaknya dalam garis besar bagaimana asuransi konvensional dan asuransi syariah berbeda secara fundamental.  Terutama bila anda membaca artikel ke 13 hingga 17 dimana dijelaskan bagaimana risk transfer digantikan oleh risk sharing dan adanya perbedaan perikatan antara para pihak yang selanjutnya… Continue reading 18. Asuransi Syariah: Mengapa Premi menjadi Kontribusi?

Mengerti Asuransi

17. Membaca Fatwa no. 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah

Setelah membaca fatwa DSN-MUI tentang akad tabarru' pada artikel sebelumnya, kini kita membahas fatwa pasangannya yaitu tentang akad wakalah bil ujrah. Bab Menimbang fatwa ini mengutip QS An Nisa (4):9, QS Al Hasyr (50):18, QS At Taubah (9):60, QS Al Kahf (18):19, QS Yusuf (12):55, QS An Nisa (4):58, QS An Nisa (4):35, QS Al… Continue reading 17. Membaca Fatwa no. 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah

Mengerti Asuransi

16. Membaca Fatwa no. 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru’ pada asuransi syariah

Dalam dua artikel terakhir Asuransi Konvensional vs Syariah: Perikatan antara Para Pihak dan Asuransi Konvensional vs Syariah: Peran, Hak dan Kewajiban para Pihak kita telah mendiskusikan bahwa struktur perikatan antara para pihak dalam asuransi syariah berbeda dengan konvensional. Perbedaan itu demikian fundamental sehingga membawa perbedaan peran, hak dan kewajiban dari para pihak yang terlibat. Mestinya… Continue reading 16. Membaca Fatwa no. 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru’ pada asuransi syariah